Pergerakan Mahasiswa Islam
Indonesia (PMII) merupakan salah satu organisasi ekstra
kampus yang berlandaskan ahli sunnah
wal jama’ah (ASWAJA), dimana didalam pergerakanya mengandung 4 nilai
dasar pergerakan yakni tauhid, hablum minallah, hablum minannas, hablum minal
alam sebagai landasan dalam melakukan
perubahan kepada masyarakat agar lebih baik. Mahasiswa sebagai motor penggerak
seharusnya, memiliki semangat mengawal sebuah perubahan baik dalam kancah
sosial maupun politik.
PMII Rayon Tarbiyah (Rata) merupakan organisasi pengkaderan ekstra
kampus lingkup rayon tarbiyah yang mampu menarik kader dalam kuantitas yang
luar biasa banyak. Ini terbukti dari tahun per tahun, sebut saja tahun 2010 PMII
Rata mampu merekrut sebanyak +350 peserta, dan pada tahun 2011 +400
peserta. Hal ini patut mendapatkan apresiasi, akan tetapi kemana dan bagaimana kader
yang begitu banyak berproses dalam PMII?
Melihat fenomena diatas, pengkaderan dalam PMII Rata bisa dikatakan jauh dari
harapan; karena kader yang berproses
tidak sebanding dengan kader yang bisa kita banggakan pada awal proses
pengkaderan atau masa penerimaan anggota baru (MAPABA). Hal tersebut merupakan
masalah kita bersama yang harus kita cari solusinya. Mulai
dari proses MAPABA yang cenderung monoton tanpa ada follow up yang mampu memberikan kesan
positif kepada para kader. Waktu kegiatan yang sering molor sehingga memberikan kesan bahwa PMII tidak disiplin, tak
jarang dosen pun sering kali melontarakan anggapan urakan, telatan, tidak rapih dan tidak sopan kepada para aktivis, tidak hanya dosen aktivispun
menjadi bahan pembicaraan mahasiswa lain bahwa sebagai
aktivis lebih suka demo dan mengesampingkan akademik. Meski tidak semua aktivis PMII seperti itu, namun
nyatanya penilaian negatife tidak lepas untuk
perorangan. Hal tersebut membuat mereka lebih memilih mementingkan akademik dan
mendengarkan dosen daripada ikut berproses dalam organisasi yang manfaatnya
sangat banyak.
Melihat fenomena tersebut, maka menjadi tugas
kita bersama untuk menghilangkan budaya yang tidak baik. Agar nantinya kader –
kader PMII tidak ilfeel atau merasa
kurang tertarik berproses dalam PMII. Hal itu bisa kita mulai dari kesadaran
pribadi dengan menunjukan perilaku yang baik, tidak mengesampingkan akademik
tetapi menyeimbangkan keduanya yakni akademik dan organisasi, serta berusaha
berperilaku lebih baik agar dapat menghapus anggapan dosen tentang image buruk
aktivis.
Semoga kedepan PMII Tarbiyah lebih baik dan dapat
memberikan manfaat yang lebih baik bagi kader – kader yang telah berproses.
Salam
Pergerakan!!!
Hidup
Mahasiswa!!!
Rinesti
Witasari
Mahasiswa
PGMI semester 4.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar